Tergoda Gradasi Biru Laut Flores

Menunggu, bagi sebagian orang adalah hal yang membosankan. Kali ini tidak berlaku bagi saya. Hari berganti bulan, bulan Juli musim panas utara tahun ini saya merencanakan perjalanan singkat sebagai penawar candu. Maklum, sebagai seorang pejalan yang dibelenggu kesibukan pekerjaan, kurun waktu lima bulan sejak perjalanan memburu Aurora sampai ke ujung Atlantik Utara akhir Januari lalu, sudah terasa cukup lama dan lumayan menyiksa.

Walau dengan persiapan super mepet, hari itu akhirnya tiba juga. Girangnya bukan main, bak anak kecil yang dihadiahi sekantung cokelat. Terlebih lagi ketika pertama kali menjejakkan kaki ke dalam kabin pesawat jet generasi paling mukhtahir buatan Kanada ini. Karena libur yang tak terlalu panjang, kali ini saya terbang tak begitu jauh ke arah timur, membuktikan pergunjingan orang-orang akan cerita indah Taman Nasional Komodo di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Rinjani di Pulau Lombok

Seisi pesawat seketika heboh oleh penumpang yang sebagian besar warga negara asing. Mereka terus celingak-celinguk melihat ke luar jendela seolah sedang mencari sesuatu. Obrolan seru dengan teman perjalanan sejak lepas landas mendadak terhenti. Benar saja, kumpulan pulau-pulau kecil sudah mulai terlihat. Terlebih lagi ketika rinjani menunjukkan kegagahannya, menyembul di sela-sela kumulus yang menyelimuti pulau lombok siang itu. Tapi ternyata saya lebih norak, lebih heboh, lebih celingak-celinguk dari bule-bule tadi, Ketika pesawat mulai bermanuver terbang rendah dan meliuk-liuk di antara pulau-pulau kecil menguning dan berbukit-bukit. Saya beberapa kali mengumpat sekaligus bergumam kecil, kenapa saya tidak dari dulu mengunjungi tempat ajaib ini?

Sebenarnya, kami telah kehilangan waktu sekitar dua jam karena penundaan penerbangan. Karena itu, saya memberikan mandat penuh kepada Pak Sergio, pemandu kami, sesaat setelah kapal meninggalkan pelabuhan Labuan Bajo. Kami membebaskan revisi itinerary, membolak-balik, dan mengurangi atau menambahkan sesuatu. Kami sepakat, perjalanan ini dibuat sesantai dan sefleksibel mungkin, agar dapat tenggelam sempurna dalam setiap momen tanpa ada dikejar target waktu.

Kumpulan kelelawar raksasa di Pulau Kalong

Pemilihan untuk bermalam di lepas dermaga Loh Buaya Pulau Rinca adalah paling tepat. Kapten kapal mengemukakan alasan, bahwa dengan menginap di sini, besok pagi-pagi sekali kami lah orang pertama yang mendarat, dan juga dapat segera bertolak ketika kapal-kapal lain mulai berdatangan. Sesuai namanya, Loh (Teluk) Buaya, diceritakan hidup satu buaya air payau yang menghuni kawasan ini. Walaupun tegantung papan pengumuman untuk berhati-hati dengan buaya yang dimaksud, di sini juga saya dapat menikmati langit malam gelap lengkap dengan Bimasakti nya dengan puas, sepuas-puasnya. Amat tenang dan syahdu. Sesekali bulu kuduk berdiri serempak ketika mata tak sengaja menangkap kemunculan beberapa meteor di arah langit selatan. Semakin larut, angin dingin dari musim dingin selatan daratan Australia makin menusuk hingga ke persendian. Untuk hal ini, saya dipaksa mengalah, segera beranjak menyelinap ke dalam selimut hangat di dek kapal.

Galaksi Bimasakti

Rupa laut barat Flores tampak jelas pagi itu seiring bertolaknya kapal semi phinisi yang kami sewa menuju Padar. Pulau dengan bukit-bukit yang menyembul, tampak berwarna hijau kekuningan. Tidak banyak pohon, hanya hamparan savana yang tiap hari diterpa terik matahari tanpa ampun. Di bagian laut, ada tiga gradasi warna. Biru gelap, menandakan laut dalam. Biru muda, menunjukkan laut dangkal dengan terumbu karangnya, dan biru keputih-putihan, laut sangat dangkal dengan dasar berpasir. Kolaborasi tiga biru ini menyajikan pemandangan nan apik lagi menyegarkan khas kepulauan tropis. Hari-hari tanpa awan, tanpa bibit hujan, Pak Sergio memberitahu kami, bahwa kami datang ke sini di waktu yang sangat tepat, dimana angin bertiup lemah, laut sedang teduh-teduhnya tanpa riak yang berarti, dan musim sepi pengunjung. Bisa dibilang, ini keberuntungan kami yang pertama.

Siang itu kami mulai mendaki Padar. Trek medium berbatu, sesekali melewati jurang terjal, dengan terik matahari yang memperlambat langkah. Di tengah bukit, saya sempat terengah. Lutut saya seketika tak mampu menopang badan, lemas, dan bergetar hebat, sesaat setelah saya berpaling menengok ke arah bawah. Sesekali terbesit, bagaimana jika terpeleset lalu terguling jatuh hingga ke garis pantai? Saya dulu pernah diberi tips, untuk trek mendaki, sebisa mungkin jangan melihat ke puncak tujuan. Karena dengan begitu, perjalanan terasa terjal, jauh, dan sangat lama. Pun dengan menoleh ke belakang ke arah bawah, akan ada sugesti ketakutan akan ketinggian. Namun, penantian dengan muka berpeluh dan napas yang tersengal-sengal, segera terbayarkan kontan ketika tiba di titik pandang utama Pulau Padar. Muncul perasaan lega yang sama seperti ketika berhasil mendaki Anak Krakatau enam tahun silam. Dari sini saya dapat melihat jelas setiap lekukan Padar berpadu dengan eloknya gradasi warna biru laut dan langit, versi asli dari iklan promosi Komodo yang saya lihat di seluruh penjuru dunia. Tak dipungkiri, Padar telah menguras sebagian besar energi saya siang itu. Selanjutnya kami turun untuk makan siang di atas kapal. Sembari bersantai dibelai angin sepoi menunggu kru menyiapkan makanan, kali ini akhirnya saya dibuat menyerah dengan godaan laut biru jernih yang memanggil-manggil sejak pertama tiba di labuan bajo. Tanpa ba-bi-bu, saya melompat dari haluan kapal. Byurrrr… segar, menyegarkan!

Advertisements

Upgrading!

Halo!

Tetap di sini, situs yang telah hiatus selama hampir delapan tahun ini sedang ditata ulang. Saya akan segera kembali dengan cerita perjalanan yang akan memberi inspirasi bagi pejalan dan petualang, mulai dari pemula yang masih berkeinginan untuk memulai perjalanan hingga para penjelajah yang tengah menjejakkan kakinya di seluruh penjuru bumi.